Kaulihat anak berlari memeluk pinggang dan ceruk sempit di kepalamu pun lengang setelah jauh mengekori telusur kapal selamat dari te...

 




Kaulihat anak berlari memeluk pinggang

dan ceruk sempit di kepalamu pun lengang

setelah jauh mengekori telusur kapal

selamat dari tenggelam dan buas aral.

 

Seperti kapal yang terbalik subuh hari

atau Suku Bajau diceraikan oleh negeri

dahulu kerongkonganmu ditempa asin laut

terombang-ambing bersama lapar yang pagut.

 

Istrimu menjala doa dari setiap rakaat

setelah kau lenyap serupa minggat

bertaruh ini jalan nafas ombak.

 

Tangkapan besar bagi hidup yang keluarga inginkan

adalah kapal yang di geladaknya kau berkorban

selamat usai kehilangan jauh dari kata sebentar.

  Selagi tebing sabar terus kaudaki berombak nasib larung abu dalam guci kepalamu semak menyembunyi bisa ular bagi pembuluh sekalian s...


 

Selagi tebing sabar terus kaudaki

berombak nasib larung abu dalam guci

kepalamu semak menyembunyi bisa ular

bagi pembuluh sekalian serum penawar.

 

Selagi buru upah, nyengat keluh, cuaca tanpa belas

pangkuan ibumu bejibun pohon tengkaras

agar rimbun kanopi itu senantiasa menyekap

botak kisah yang telanjur kaugarap

 

bising kota yang telanjur kaulumat

dalam rangkulan arak meski kelebat

meski teduh pun akhirnya ranggas.

 

Dengarkan kucur dari sebongkah retak

sekalipun atas ranting bertengger gagak

memulang mabuk yang lebih nyata.

  Semacam sibak payung usia kedua puluh petir dinyanyikan langit awan mengeluh bahasa tempias gagal diucap mendung kecipak buru gemeta...


 

Semacam sibak payung usia kedua puluh

petir dinyanyikan langit awan mengeluh

bahasa tempias gagal diucap mendung

kecipak buru gemetar milik sepasang tudung.

 

Jarum suhu yang tak mungkin kauhitung

menyulam pucuk basah di jalan relung

setelah temu dihangatkan api kompor

sisa lapar dan sunyi yang bocor.

 

Kecewa yang tak cukup dalam baskom

tak mungkin kautampung di sebaris kolom

genting yang semalam dibilas percik

 

menghadiahkan gigil bagi hari esok

sempat kausimpan kuyup seluruh blok

embun palem sebelum panas merenggut.


  Antara bentang sawah dan kerubung jelantir derum ekskavator menyeretmu ke titik nadir boneka-boneka jerami ambruk terlantar bersama ...


 

Antara bentang sawah dan kerubung jelantir

derum ekskavator menyeretmu ke titik nadir

boneka-boneka jerami ambruk terlantar

bersama bungkuk padi hangus terbakar.

 

Sejumlah petani mendirikan tenda

mendoakan lahan tak jadi bandara

tikus sembunyi dari alap-alap

matang di tengah gerombol asap.

 

Dalam liukan laut beningnya pasang

laju tongkang menginjak-nginjak terumbu karang

meracun nyiur dengan karbon senyawa

 

memupuk asma di beranda rumah nelayan

anak-anak tenggelam di bekas galian

selama cukong leluasa meraup tambang.


  Setelah kerdip lampu minyak habis nyala seloroh gagak nyaring kentong penuhi udara kautemui orang-orang pergi memikul demam menimpak...

 

Setelah kerdip lampu minyak habis nyala

seloroh gagak nyaring kentong penuhi udara

kautemui orang-orang pergi memikul demam

menimpakan pada sunyi yang berbaring lebam.

 

Itu tangan merogoh harta milikmu bukan

wajah siapa ini sembunyi dalam uikan

uangku di bawah bantal sekejap hilang

pada air mata biniku khusyuk berenang.

 

Segera orang panggil dukun siap membalas

meski di krikil jalan darah menetas

masuk ke lubang pori-pori malam.

 

Bilik gemetar ruang menjamu mampir gulita

hapus sembap lekas kelambu pintu kaubuka

mantra yang menggulung sekuat tangis kauredam.


  Semacam dingin yang menampik selimut freon mengepung bibir segores kecut kantuk telah pergi menyingkap tirai menyambut kokok ayam se...

 

Semacam dingin yang menampik selimut

freon mengepung bibir segores kecut

kantuk telah pergi menyingkap tirai

menyambut kokok ayam sebentar sampai.

 

Sebab sebutir pagi yang tetas

alangkah singkat untuk kaukemas

bak embun gelayut di aglonema

semakin siang pupus terseka.

 

Sebab luncur yang menyamun nektar

kalah pukau dari akrobat kelelawar

yang berserobot di pohon salam

 

menyisakan bilah doa untuk selokan

bagai sajak tak henti kauukirkan

ke rimbun tanya mencerna malam.

  Perasaan adalah rumput liar yang ketika kaucabut haru semakin menjalar. Daun-daun goyang sekelebat adalah tanda bagi sekumpulan bocah ...

 


Perasaan adalah rumput liar yang ketika kaucabut

haru semakin menjalar. Daun-daun goyang sekelebat

adalah tanda bagi sekumpulan bocah berpulang

ke sehampar tikar, dengung di antara kibas kipas,

tembok kelabu

adakah yang mengabadikan ringkukmu

selain jarum nyamuk dan lampu minyak?

 

Pada kamar yang tak dihuni senggama

langit-langit yang tak memahami desah itu berkisah

apa yang disembunyikan jelaga

dari muslihat jejaring laba-laba.

 

Kau ada di sedikit nasi yang ibuku antar

percik wudu jelang fajar siuman

gumam yang ditiup dari setangkup tangan

dari kandang selama malam mengirim lenguhnya

kauelus dahiku “Tak perlu takut sayang, suara itu

hanyalah sapi belum mengantuk jua.”

 

Perasaan adalah rumput liar sengaja tak kaupangkas

biar tinggi ia menutup bobrok rumah

mendatangkan nyamuk setia selagi kau tak kunjung ada.



  Setelah desa dan kau berjauhan, bapak dengan beban rumput di sepeda merindu cangkir kopi yang merangkulnya di atas meja ibu teringat k...

 




Setelah desa dan kau berjauhan, bapak dengan beban rumput

di sepeda merindu cangkir kopi yang merangkulnya di atas meja

ibu teringat kapan terakhir kali lengan sawo matangmu pulang

menembang bersamanya memanggili kunang-kunang.

 

Setelah lenguh sapi dan kandang berjauhan, parfum di seragam

mengingatkanmu pada seekor sapi yang dijual demi dua belas

tahun sekolah demi kaki-kaki yang tak mesti pegal di sawah.

 

Setelah kau menjauh, aku seperti kunang-kunang hilang kerjap,

lagipula bagaimana kubagi cahaya jika bahan bakarnya kaubawa

ke seberang. Hanya remang memijit pegal, kecemasan

tak lerai, dan kisahmu tak lagi mengusir nyamuk balai.

 

Kucari hinggapmu di tanah lecak, jerembap mengamati burung pipit

dan kenur sama bertolak. Terngiang siapa dulu menyusulku dengan

rantang meski kau telah dicuri macet dan culasnya kota

sendiri membayangkan bening irigasi bunyi jangkerik dan kumbang.

 

Kaubayangkan keloneng di stasiun dan terminal

membuang gelisah yang mengeraskan bantal

menuju hijau pematang kampung muasal

meski seluruh masa kecilmu bapak jual.


Layang-layang hijau mencambuk ekor pucuk pohon, kebun pisang, dan perahu tak habis ditinjau. Langit tersedot dalam selaput mega mirip ...


Layang-layang hijau mencambuk ekor

pucuk pohon, kebun pisang, dan perahu

tak habis ditinjau. Langit tersedot dalam

selaput mega mirip vacum cleaner, umbul

bergerak, satu ikan pun tak kaujangkau.

 

Layang-layang hijau mencambuk ekor

angin mendesir halus riak-riak menyodor

capung rendah muka danau

di tepi rumput bersimpang siur

mata kail keluputan congor

antara menungmu sulut tembakau.

 

Layang-layang hijau mencambuk ekor

sia-sia dalam tarikan kenur

kelelap cacing tanah dan ember kosong

sore tengkurap dalam gazebo.

  dengan kipas yang menggeleng-geleng kepada tipis  kasur, warung sejauh mungkin menghindari gerahmu  di samping Minimart pohon-pohon purba ...

 



dengan kipas yang menggeleng-geleng kepada tipis 

kasur, warung sejauh mungkin menghindari gerahmu 

di samping Minimart pohon-pohon purba diikati 

sebelum putus, dahan-dahan melambai daunnya 

terakhir kali mengingat panas sebelum rubuh.


Ke manakah siang usai duduk santai di kosen jendela 

riwayat cermin yang menjebak masa kecil dari ketawa 

robekan tisu mengenangkan becek melebihi sawah

mitos laba-laba dan titian jaring di kepala 

lelaki menumpuk letih di ketinggian kampung 

menjadi rumah buru-memburu longsor  

perempuan membendung isak sebagai tanggul 

bertahan dari musim keluapan yang menjebol.


Kipas jadi gerak monoton untuk sprei lembab 

pohon-pohon terus dihimpit dinding papan 

mini mart memanjang untuk menelan langkah 

makan siang bersama scroll down Shopee Mart.


Waktu yang awet sebagai keringatmu 

matahari berontak dalam bed cover 

lelaki sedingin AC yang disimpan detak jantung 

menyeduh teh hijau tanpa obrolan bersamamu.